JSA atau Job Safety Analysis digunakan untuk mengidentifikasi bahaya pada setiap tahapan pekerjaan sekaligus menentukan pengendalian risikonya. Karena dibuat berdasarkan pekerjaan dan kondisi tertentu, isi JSA perlu disesuaikan dengan situasi yang dihadapi saat pekerjaan berlangsung.
Penggunaan JSA karena itu tidak cukup hanya melihat kapan dokumen dibuat. Analisis perlu tetap menggambarkan pekerjaan yang dilakukan, termasuk bahaya dan pengendalian yang masih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Baca juga: Pelajari Peran dan Skill Wajib Juru Ukur Tambang di Sini!
Masa Berlaku JSA dan Ketentuan Review
JSA tidak memiliki satu angka masa berlaku yang berlaku untuk semua pekerjaan. Tidak ada patokan umum yang membuat setiap JSA otomatis dapat digunakan selama 30 hari, satu bulan, atau satu tahun.
Dalam pedoman keselamatan pertambangan, Job Safety Analysis digunakan untuk pekerjaan atau tugas yang belum atau tidak tersedia prosedur operasi/kerja. Prosedur tersebut ditinjau ulang secara berkala dan ketika terjadi kecelakaan maupun perubahan peralatan, proses, bahan, atau prosedur operasi/kerja.
Artinya, ukuran yang lebih penting adalah kesesuaian JSA dengan pekerjaan yang dianalisis. Perusahaan tetap dapat memiliki ketentuan internal mengenai jadwal review, tetapi periode tersebut mengikuti sistem keselamatan yang diterapkan masing-masing perusahaan.
Review juga tidak selalu berarti membuat JSA dari awal. Apabila perubahan hanya terjadi pada bagian tertentu, isi analisis dapat diperbarui sesuai kondisi terbaru.
Setelah ada perubahan, pekerja yang terdampak juga perlu mengetahui metode kerja atau pengendalian yang baru. OSHA merekomendasikan peninjauan JHA secara berkala dan setelah terjadi cedera atau kejadian yang menunjukkan perlunya perubahan pada pekerjaan.
Pihak yang Terlibat dalam Penyusunan JSA
Penyusunan JSA sebaiknya melibatkan orang yang memahami pekerjaan secara langsung. Pekerja yang menjalankan tugas, pengawas, serta personel K3 atau pihak lain yang memiliki pengetahuan terkait dapat dilibatkan dalam proses identifikasi bahaya dan penentuan pengendalian.
Pekerja memiliki pemahaman mengenai urutan pekerjaan dan kondisi yang benar-benar ditemui di lapangan. Keterlibatan mereka juga membantu mengurangi kemungkinan ada tahapan atau bahaya yang terlewat.
OSHA secara khusus menganjurkan keterlibatan pekerja dalam proses job hazard analysis karena mereka memiliki pengetahuan langsung mengenai pekerjaan yang dilakukan.
Pengawas kemudian dapat memastikan hasil analisis sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan dan pengendalian yang ditetapkan dapat diterapkan.
Karena itu, JSA sebaiknya tidak dibuat hanya untuk memenuhi kebutuhan administrasi. Hasilnya perlu dipahami oleh orang-orang yang akan menjalankan pekerjaan tersebut.
Baca juga: Jenis Pekerjaan di Tambang Nikel yang Wajib Anda Ketahui
Tahapan Penyusunan JSA
Penyusunan JSA dilakukan dengan menguraikan pekerjaan menjadi beberapa tahapan, kemudian mengidentifikasi bahaya dan menentukan pengendalian pada setiap tahapan.
Secara umum, prosesnya meliputi:
1. Menentukan pekerjaan yang akan dianalisis
Pilih pekerjaan yang membutuhkan analisis keselamatan berdasarkan risiko dan kondisi pelaksanaannya.
2. Menguraikan langkah kerja
Pecah pekerjaan menjadi tahapan yang jelas dari persiapan hingga pekerjaan selesai. Pemecahan tidak perlu terlalu rinci, tetapi tetap harus mencakup langkah penting yang dapat memengaruhi keselamatan. OSHA juga menyarankan melibatkan pekerja saat menguraikan tahapan pekerjaan.
3. Mengidentifikasi bahaya
Tentukan apa yang dapat menyebabkan cedera atau kerugian pada setiap langkah pekerjaan, termasuk kondisi atau faktor yang dapat memicu bahaya.
4. Menilai risiko
Tentukan tingkat risiko berdasarkan metode penilaian yang digunakan dalam sistem keselamatan perusahaan.
5. Menentukan pengendalian
Tentukan tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan atau mengurangi risiko. Pengendalian dapat berupa perubahan metode kerja, rekayasa, prosedur, maupun perlindungan lainnya sesuai kebutuhan.
6. Mendokumentasikan hasil analisis
Catat tahapan pekerjaan, bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian dalam formulir JSA yang digunakan perusahaan.
7. Mengomunikasikan hasilnya kepada pekerja
JSA perlu dipahami oleh pekerja sebelum pekerjaan dilakukan, terutama ketika terdapat perubahan metode kerja atau pengendalian.
8. Melakukan review
Tinjau kembali JSA secara berkala dan ketika terjadi perubahan yang dapat memengaruhi keselamatan pekerjaan.
Materi Training POP (Pengawas Operasional Pertama pada Pertambangan) BNSP Duta Training juga mencakup Hazard Identification, Risk Assessment, and Risk Control (HIRADC), teknik penyusunan JSA dan SOP, serta analisis keselamatan pekerjaan. Materi tersebut berkaitan langsung dengan kemampuan pengawas dalam mengenali bahaya dan menentukan pengendalian pada pekerjaan.
Dampak Jika JSA Tidak Diperbarui
JSA yang tidak diperbarui ketika kondisi pekerjaan berubah dapat menimbulkan beberapa dampak, antara lain:
- Bahaya baru tidak teridentifikasi, karena analisis masih mengacu pada kondisi pekerjaan sebelumnya.
- Pengendalian risiko tidak lagi sesuai dengan peralatan, proses, bahan, atau metode kerja yang digunakan.
- Pekerja dapat mengacu pada informasi yang sudah tidak relevan saat melaksanakan pekerjaan.
- Perubahan kondisi keselamatan tidak terdokumentasi, sehingga hasil analisis tidak menggambarkan situasi aktual di lapangan.
- Potensi kejadian tidak diinginkan meningkat ketika risiko yang berubah tidak diikuti dengan penyesuaian pengendalian.
- Temuan dari kecelakaan atau near miss tidak masuk ke dalam analisis terbaru, padahal kejadian tersebut dapat menjadi dasar perbaikan pengendalian.
Karena itu, review JSA perlu dilakukan ketika terdapat perubahan yang dapat memengaruhi keselamatan pekerjaan agar analisis dan pengendalian tetap sesuai dengan kondisi di lapangan.
FAQ
Apakah JSA harus dibuat setiap hari?
Tidak selalu. JSA dibuat sesuai kebutuhan pekerjaan dan ketentuan sistem keselamatan yang berlaku di perusahaan. Yang terpenting, isinya tetap sesuai dengan pekerjaan dan kondisi saat pekerjaan dilaksanakan.
Apakah JSA bisa digunakan untuk pekerjaan yang berbeda?
JSA dibuat berdasarkan pekerjaan dan kondisi tertentu. Karena itu, JSA tidak sebaiknya digunakan begitu saja untuk pekerjaan lain tanpa pemeriksaan. Jika tahapan, peralatan, lokasi, atau kondisi risikonya berbeda, analisis perlu disesuaikan.
JSA berlaku berapa lama?
Tidak ada satu periode masa berlaku JSA yang berlaku universal untuk semua pekerjaan. JSA perlu ditinjau secara berkala dan ketika terjadi kecelakaan atau perubahan yang dapat memengaruhi keselamatan pekerjaan.
Kesimpulan
JSA tidak memiliki masa berlaku tetap seperti sertifikat yang memiliki tanggal kedaluwarsa. Penggunaannya bergantung pada kesesuaian analisis dengan pekerjaan dan kondisi aktual di lapangan.
JSA perlu ditinjau secara berkala serta diperbarui ketika terdapat perubahan pada metode kerja, peralatan, proses, bahan, maupun setelah kejadian yang berkaitan dengan keselamatan. Penyusunan dan review juga sebaiknya melibatkan pekerja, pengawas, serta pihak yang memahami pekerjaan agar bahaya dan pengendalian yang ditetapkan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Apabila Anda ingin meningkatkan kompetensi dan kredibilitas sebagai tenaga profesional, ikuti program pelatihan dan sertifikasi dari LSP BNSP Duta Training. Program yang tersedia dirancang untuk membantu peserta memahami kebutuhan industri sekaligus meningkatkan daya saing di dunia kerja. Anda juga dapat menghubungi Duta Training, LSP Terbaik langsung melalui WhatsApp